Mengirim data: sms ke 08180 438 9000
SD nama pasar, nama kota, nama komoditas, harga, satuan, stok
contoh: SD pasar niten, bantul, cabe rawit, 110000, kg, 500

Lawang

Nyata-kan Kebenarannya!

3 May 2011

LawangTani: Layanan informasi harga pasar produk pertanian

LawangTani :[1]

Layanan informasi harga pasar produk pertanian mewujudkan real societal economy: real persons, real goods, real prices, real time

oleh:
Didi Sugandi
dsugandi@gmail.com

  • discover knowledge,
  • communicate knowledge,
  • facilitate collective capabilities
  • manage strategically

LawangTani berkaitan dengan mekanisme penentuan harga (price determination) serta penemuan harga (price discovery) pasar komoditas pertanian secara langsung, transparan dan kolaboratif (kolektif) oleh segenap pelaku ekonomi dan pemangku kepentingan (stakeholders) seperti government agencies, organisasi-organisasi developmental dsb. Dalam paparan ini penentuan harga (price determination) didefinisikan sebagai interaksi dari kekuatan-kekuatan penawaran dan permintaan yang menentukan tingkat harga pasar. Sedangkan penemuan harga (price discovery) adalah proses di mana pembeli-pembeli dan penjual-penjual tiba pada harga (indikasi) transaksi untuk suatu kualitas dan kuantitas tertentu dari produk pada suatu waktu dan tempat tertentu.

Para ekonom biasa menggunakan konsep-konsep penawaran dan permintaan untuk mencoba menjelaskan harga-harga pasar dan kuantitas barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksi. Penawaran dan permintaan bukan “teori” (dalam arti: mampu menjelaskan) dan juga bukan hukum sebagaimana misalnya “hukum gravitasi”, namun alih-alih menyediakan suatu kerangka berpikir (mental framework) untuk memahami bagaimana perubahan-perubahan dalam ekonomi akan mempengaruhi harga-harga dan kuantitas-kuantitas. [2]

Permintaan adalah relasi-relasi antara berbagai harga-harga teoritikal pasar untuk suatu barang atau jasa, dengan jumlah total unit barang yang para konsumen “ingin” beli pada setiap harga teoritikal. Untuk menyatakan bahwa permintaan bukanlah sebuah bilangan spesifik, namun alih-alih sebuah relasi di antara banyak bilangan, ekonom sering menggunakan istilah tabel permintaan (demand schedule). Sebuah demand schedule bisa disusun untuk satu orang atau untuk banyak orang. Setelah kita mengerti permintaan, maka penawaran lebih mudah untuk dijelaskan: Penawaran adalah relasi-relasi antara berbagai harga-harga teoritikal pasar untuk suatu barang atau jasa, dengan total jumlah unit yang para produsen “ingin” jual pada setiap harga teoritikal. Sebagaimana bisa kita saksikan, baik permintaan maupun penawaran keduanya adalah konsep-konsep, abstraksi, untuk mengkonotasikan relasi-relasi antara harga dengan barang (atau jasa).

Tabulasi-tabulasi (schedules) penawaran dan permintaan yang dapat diwujudkan menjadi grafik-grafik atau kurva-kurva meng-ilustrasikan efek-efek teoretikal (atau hypothetical) dengan membuat segala sesuatu yang lainnya harus tetap sama, kecuali merubah harga barang (atau jasa) yang diamati. Untuk lebih tegasnya, apa yang dapat dicapai olehnya adalah sekedar pemerian (describing), penawaran dan permintaan ini bukanlah sebuah “teori”, bukan suatu yang mampu memberi penjelasan (explanation) tentang hal-hal apa saja yang mempengaruhi orang di dalam ekonomi mengambil suatu keputusan, ia adalah sekedar sebuah framework bagi ekonom untuk meng-organisir pikiran mereka.

[-lead-]Ada sebuah hal subtil yang sering membingungkan jika tidak biasa menyadari cara berpikir ekonomik. Perlu diingat bahwa kurva-kurva penawaran dan permintaan merubah harga barang yang dianalisis, sambil menetapkan segala sesuatu yang lainnya harus tetap sama, tidak berubah (ceteris paribus, = all else being equal). Satu di antara unsur-unsur “segala sesuatu yang lainnya” itu adalah harga dari barang-barang lain (other goods) dan pengaruh keputusan some other persons, some other everything. Dengan kata lain: ketika harga daging sapi berubah, hal ini tidak mempengaruhi permintaan bagi daging sapi; apa yang terjadi adalah kita menggeserkan kurva permintaan untuk daging sapi. Akan tetapi, ketika di dalam realitas, pada kenyataannya, harga daging ayam berubah, ini memang bisa saja menggeser kurva permintaan bagi daging sapi.[-/lead-]

Permintaan dan penawaran (real, nyata) yang kemudian digambarkan oleh kurva-kurva (abstraksi) penawaran dan permintaan semua itu adalah efek dari interaksi dan interdependensi segenap keputusan yang diambil oleh individu, persons, yang jumlahnya bukan sedikit. Analisis permintaan dan penawaran bisa digunakan untuk menjelaskan harga dan kuantitas, tetapi ia bukan penjelasan tentang penyebab mengapa harga atau kuantitas berada pada level yang tergambarkan. Perpotongan kurva permintaan dan kurva penawaran samasekali tidak bisa menjelaskan apakah titik itu meng-konotasi-kan atau correspond dengan, baik keinginan (want) maupun kesediaan (will) para pelaku pasar, yaitu pembeli atau penjual. Kondisi permintaan dan penawaran bukan sebuah sebab mengapa harga sesuatu barang atau jasa berada pada suatu level penawaran atau permintaan tertentu, karena ia adalah akibat, efek, dari interaksi dan interdependensi tindakan-tindakan riil, yang berlangsung secara simultan di antara sejumlah banyak individu di dunia nyata, di ruang yang nyata dan di dalam waktu yang nyata.

Bernalar dengan kategori-kategori abstrak penawaran dan permintaan, dalam kasus manapun, tentu bisa menunjukkan entah harga ataupun kuantitas akan bergerak ke suatu arah tertentu, tetapi pergerakan item lainnya tidak akan pernah pasti; Kita akan bisa menetapkan:

  1. bahwasanya kuantitas jelas (definitely) bertambah, tetapi kita tidak akan tahu pasti ke arah mana harga bergerak,
  2. bahwasanya kuantitas jelas berkurang, tetapi kita tidak akan tahu tentang harga,
  3. bahwasanya harga jelas naik, tetapi kita tidak akan tahu ke arah mana kuantitas bergerak, atau
  4. bahwasanya harga jelas turun, tetapi kita tidak akan tahu pasti ke arah mana kuantitas bergerak.

Ekonom-ekonom tidak mengandalkan pada sebuah teori tentang penawaran dan permintaan; mereka lebih menggunakannya sebagai sebuah alat (tools). Konsep-konsep tentang penawaran dan permintaan adalah cara-cara untuk memandang dunia. Mereka memungkinkan ekonom-ekonom untuk mengelompokkan berbagai kekuatan-kekuatan atau sebab-sebab ke dalam dua kategori berbeda, dalam upaya berpikir jernih dan sistematik tentang perubahan-perubahan di dunia nyata dan bagaimana hal hal itu akan berdampak pada harga-harga pasar. 

Karena penawaran dan permintaan adalah piranti-piranti konseptual (conceptual tools), bukan sebuah teori empirik, tidak akan pernah ada bukti yang memperlihatkan (evidence that demonstrates) bahwasanya “penawaran dan permintaan” betapapun adalah salah (false, kebenaran semu). Apa yang mungkin bisa terjadi adalah bahwa pada suatu waktu di masa datang barangkali ekonom akan menetapkan bahwasanya “penawaran dan permintaan” bukan lagi merupakan pendekatan yang paling memberi manfaat dalam berpikir mengenai harga harga-harga. Untuk saat sekarang ini, para ekonom cenderung selalu menggunakan penawaran dan permintaan untuk menjelaskan harga-harga pasar, semata hanya karena piranti-piranti yang lebih berdaya masih harus diketemukan (discovered). 

Enter  LawangTani

Sistem LawangTani adalah sebuah piranti (tool) yang dirancang untuk untuk mampu menemukan (mengungkap) dan menyajikan informasi harga pasar relevan dan pada waktunya (timely), akan secara signifikan memperbaiki dan menyempurnakan pengumpulan, pemrosesan dan penyebarluasan informasi harga pasar komoditi pertanian yang pada saat sekarang biasanya disiarkan melalui radio oleh pemerintah Indonesia. LawangTani dengan memanfaatkan kelebihan teknologi-teknologi komunikasi wireless berkonvergensi dengan internet, akan menyajikan informasi harga yang (nyaris) real-time kapan saja dan di mana saja; Pemutakhiran data bisa dilakukan se-kerap perkembangan – berubahnya perubahan - di pasar-pasar. LawangTani akan memudahkan cara jaringan (network) pasar melakukan proses berjejaringan (networking) karena LawangTani akan merespon fakta bahwasanya di dalam realitas, masing-masing dan tiap-tiap orang – semua orang, secara simultan adalah “price maker” dan “price taker”. Dalam realitas, kehidupan dunia nyata, kita memiliki nilai-nilai kita sendiri namun kita juga menerima nilai-nilai orang lain, dan demikian juga kita berharap bahwa orang lain juga mau menerima nilai-nilai kita. Sejatinya setiap orang berhak dan patut ikut bicara mengenai ekonomi karena ekonomi adalah perihal hubungan-hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan benda-benda, benda-benda dengan benda-benda lainnya dsb. Ekonomi (economy) bukan sekedar ilmu ekonomi (economics). 

Sekarang ini, informasi "harga beli" dan "harga jual" suatu barang di pasar berbeda-beda tergantung pada kepada siapa kita bertanya karena ini melibatkan overheads dan marjin-marjin keuntungan yang ditetapkan sendiri-sendiri oleh masing-masing pedagang atau perantara, dan karenanya menjadikannya sumber-sumber untuk asumsi-asumsi dan data yang tidak andal untuk digunakan para pelaku pasar dalam membuat estimasi-estimasi nilai yang fair.

Dalam upaya menuju relasi-relasi pertukaran yang adil (fair exchange relationships), kita perlu menyadari bahwa link antara nilai (value), harga (price), dan biaya (cost) adalah tidak equal (unequal) sebagai berikut:

Nilai bagi pembeli > Harga > Biaya penjual.

Ketidak-samaan Nilai bagi pembeli “>” (‘lebih besar dari”) Harga mengimplikasikan kepuasan bagi pembeli. Ketidak-samaan Harga “>” (“lebih besar dari”) Biaya Penjual (atau dengan kata lain: Biaya Penjual adalah lebih rendah dari Harga) mengimplikasikan bahwa penjual membuat profit, yang mana diperlukan olehnya untuk keberlanjutan usahanya. Walau mid-price bukan tingkat harga pasti di mana seseorang bisa berharap terjadinya transaksi pembelian atau penjualan, namun (“mid-price”) sebagai suatu indikator adalah suatu panduan sangat penting untuk penyesuaian asumsi-asumsi dan pengetahuan yang bisa digunakan para partisipan pasar dalam membuat estimasi-estimasi mereka untuk mempertemukan ekspektasi bersama yakni, menyesuaikan keinginan (“want”) seseorang (harga ideal, minimum atau maksimum tergantung pada tujuan seseorang, menjual atau membeli) serta kesediaan (“will”), yaitu level di mana seseorang bersedia melepaskan. Dalam transaksi-transaksi sesungguhnya, harga di mana anda benar-benar bayarkan ketika anda membeli akan lebih tinggi daripada mid-price, dan harga di mana anda sesungguhnya terima ketika anda menjual akan lebih rendah daripada mid-price.

Ingin (Want) dan Mau (Will) :

Layanan informasi LawangTani akan mampu menyajikan daftar mid-market price untuk suatu komoditi agrikultur tertentu di mana informasi itu akan berfungsi sebagai nilai indikatif (indicative value) yang tidak berat sebelah baik ke arah pembelian (buying) maupun penjualan (selling), karena lebih baik jika kita menganggap bahwa kita tidak mengetahui apakah seseorang akan membeli atau menjual komoditi termaksud itu.

Harga mid-market adalah sebuah harga yang terkalkulasikan sebagai titik tengah antara harga-harga permintaan (bid prices) dan harga-harga penawaran (offer prices). Dalam LawangTani harga mid-market ini diperoleh dari nilai pertengahan agregasi sejumlah patraka harga (price quotation) [3] yang diumumkan (published) oleh pelaku pasar. Sebagai data harga indikatif, ia akan berfungsi melayani untuk memandu (guiding) dan mengarahkan (aligning), menginformasikan kepada produsen-produsen agrikultur, serta partisipan pasar lainnya tentang tendensi (level yang mungkin, possible level) serta dinamika (kecepatan dan arah perubahan) dari harga-harga produk-produk agrikultural.

Dengan menggunakan LawangTani, para pelaku pasar akan memiliki piranti bagi sebuah kerjasama aktif dalam meng-agregasikan data untuk membuat mid-points tersedia, dan mudah untuk termunculkan. Pengguna-pengguna LawangTani mem-posting-kan oleh mereka sendiri data harga komoditi milik mereka yang “masuk akal” baginya untuk dikombinasikan (aggregated) oleh system sehingga setiap orang dapat menemukan “titik-titik orientasi” yaitu indikasi harga spesifik (timewise and locationwise) untuk mendekat sedekat mungkin kepada harga mid-market dalam upaya membuat biaya transaksi-transaksi (transaction costs) lebih rendah bagi setiap orang, dan transaksi lebih mudah terjadi (berlangsung).

Secara keseluruhannya, transaksi-transaksi individual berbiaya tinggi adalah yang membentuk ekonomi biaya tinggi. Salahsatu penyebab utama tingginya biaya transaksi dan kemudian dalam agregatnya menjadi biaya ekonomi, terkait erat dengan persoalan pemerolehan informasi. Dengan demikian, LawangTani juga membagi biaya-biaya secara merata ditanggung segenap para pihak dalam pasar, menurunkan biaya transaksi kolektif, menurunkan biaya ekonomi. Pihak yang berkepentingan memonitor harga riil uang, misalnya Bank Indonesia, bisa memanfaatkan LawangTani untuk memperoleh informasi nilai tukar uang terhadap komoditi, misalnya untuk keperluan menyusun indeks harga konsumen yang lebih andal. Dampak yang paling utama dari LawangTani sebetulnya terletak pada potensinya untuk menurunkan biaya ekonomi (economic costs), beban kolektif, yang sejauh ini tidak pernah direspon dengan sebaik-baiknya karena terpaku orientasi kepada “ekonomi yang mengejar peningkatan pendapatan”. Penurunan pada biaya-biaya, efeknya, (gain-nya) sebetulnya adalah sama dengan, jika tidak mau dikatakan "lebih dari", peningkatan pendapatan.

Proses penemuan harga-tengahan (mid-price discovery) ini adalah middle ground atau boundary - di mana apa yang dinamakan “coopetition” (cooperation cum competition) bisa dan akan berlangsung, muncul, bekerjasama dalam memunculkan, menumbuhkan nilai-nilai serta berkompetisi dalam mendistribusikan, (sharing) nilai-nilai. Dalam setiap sistem apapun, pertumbuhan, yakni perubahan dan berubahnya perubahan selalu berlangsung pada zona-zona ambang (boundaries) ini. Sel di tubuh manusiapun bertumbuh pada area yang dinamakan nexus, suatu zona perbatasan dimana terjadi komunikasi dan koordinasi (mengikuti suatu rule), yakni pada membran masing-masing sel.

Semakin banyak orang terlibat dalam mengkontribusikan data ke dalam sistem dengan cara mempostingkan patraka harga mereka, akan semakin lebih baik lagi kualitas informasi yang dihasilkan oleh sistem yakni, lebih dan semakin berkenaan - correspond - dengan dunia nyata di mana pasar berada dan pada jangka waktu yang spesifik. Setiap input informasi (posting) akan turut diperhitungkan, turut menentukan kualitas informasi yang dikandung oleh sistem dan kemudian siap diakses oleh pengguna dari manapun.

Menggunakan LawangTani, lebih banyak partisipan pasar bisa mempublikasikan patraka harga yang masing-masing harapkan (their own expected price) dan, - setelah melalui beberapa komputasi sederhana oleh database LawangTani - siapapun bisa dengan mudah menemukan, - dengan cara mengajukan pertanyaan kepada sistem, querying, dengan metode serupa dengan posting - di mana atau pada level mana, ekspektasi-ekspektasi seseorang mendekat (come close to) atau menemui (meets) ekspektasi-ekspektasi orang lain, sehingga secara cepat membentuk indications, mengungkap “lebar zona tawar-menawar (bargaining) dan negosiasi” yang mudah dibayangkan, yang “visible” (atau perceivable) mewujudkan klaster-klaster yang terdiri dari “willing buyers” serta “willing sellers”.

Dalam upaya memelihara konsistensi yang dibutuhkan untuk ketepatan dan ketelitian data harga, LawangTani memfasilitasi “pelacakan dan akuisisi data” pada perioda waktu spesifik (specific time-frame) untuk lokasi geografis spesifik mengenai item komoditas spesifik untuk harga spesifik. Sejatinya ketika seseorang menyatakan patraka harga untuk barang yang ada padanya atau dimiliki olehnya, ini adalah real correspondence of price and the substance (goods, barang).

LawangTani mewujudkan real price, real goods, real time, real economy, dan bukan sekedar kategori-kategori abstrak; Dan yang paling terutama adalah real person(s), manusianya, masing-masing dan setiap pribadi, yang jadi ter-mudahkan memiliki peluang membuat ketetapan, menyatakan pendapatnya bukan lagi sekedar sesuatu kategori abstrak (class ) seperti “konsumen” atau “produsen”.

Quotation (“patraka”) adalah pendapat yang diumumkan. Karena setiap patraka harga akan didasarkan pada quantity nyata yang ada (real goods, barang-barang yang sesungguhnya ada) maka data harga indikatif yang dihasilkan oleh LawangTani akan memiliki “eligibility” atau kelaikan data yang mampu memenuhi syarat akan kualitas kelaikan sebuah data atau informasi yaitu:

(a) bisa dipercayai dan

(b) bisa membuktikan apa (kepercayaan) yang telah diperoleh pada (a) [4]

Marking. Dengan mengindikasikan (menunjuk) suatu nilai ("5000 rupiah per kilogram") terhadap barangnya yang nyata ("Beras Rojolele yang ini") maka sesungguhnya kita telah menempatkan penggunaan uang sebagai suatu "unit of account" yang akan menghasilkan efek mengurangkan biaya-biaya informasi bagi para pelaku transaksi (transactors). Tanpa suatu unit of account, tiap pelaku transaksi manapun harus mengetahui nilai tukar bilateral setiap komoditi terhadap masing-masing jenis komoditi lainnya (bilateral exchange value of each commodity for every other commodity). Jika misalnya terdapat sejumlah n  komoditas, maka akan terdapat setidaknya (n(n–1))/2 kombinasi nilai-nilai (harga) yang berlainan.

Jumlah dari "bilateral exchange ratios" (yakni harga-harga) meningkat dengan cepat. Dengan n = 100 komoditas, akan terdapat setidaknya 4950 jenis kombinasi harga untuk diketahui. Pada n= 500, terdapat 124750 macam harga, dan dengan 1000 komoditas setidaknya akan ada 499500 macam harga. Tanpa suatu unit of account, perdagangan akan terbatasi oleh biaya-biaya informasi. Traders tidak akan mengetahui nilai dari items yang ditawarkan dalam pertukaran (exchange). Penggunaan suatu unit of account untuk menyatakan nilai mengurangkan jumlah harga-harga dari (n(n–1))/(2) menjadi n. Reduksi pada biaya-biaya informasi akan mendorong ekspansi dari perdagangan.

DEFINISI: Unit of account adalah suatu fungsi dasar dari uang, menghadirkan sebuah satuan pengukuran untuk mendefinisikan, mencatat, dan membandingkan nilai, misalnya, sepuluh ribu rupiah mewakili bukan hanya selembar uang kertas sepuluh ribu rupiah saja, namun juga nilai sepuluh-ribu rupiah uang di dalam wujud lain (deposits, kekayaan, komoditi), dalam bentuk lainnya selain uang, barang atau jasa apapun pada sebuah nilai pasar. Ini adalah konsep tentang "currency" ( lihat juga: A Commodity Reserve Currency, F.A. Hayek dalam Individualism and Economic Order] - http://www.facebook.com/note.php?note_id=413375102413 )

Sejalan dengan terungkapkannya data spasial dan temporal dinamik harga-harga yang termutakhirkan dari waktu ke waktu menggunakan teknik “jendela waktu bergeser” (“sliding time window”), - di mana perata-rataan di-set hanya meliputi jangka waktu tertentu, misalnya 24 jam terakhir, 3 hari terakhir dsb. - maka, dengan menggunakan LawangTani, simulasi-simulasi dan pemetaan dinamik dibantu “Geographic Information System, GIS” untuk keperluan perencanaan strategis, monitoring, studi-studi, serta solusi-solusi manajemen logistikal bisa memperoleh datanya dipasok ketika kejadian-kejadian (events) berlangsung di lapangan atau pasar sebagaimana juga dari data historis yang ter-rekam oleh sistem; Pada kondisi-kondisi darurat, misalnya bencana kerawanan pangan, informasi kuantitas komoditi pangan yang tersedia di suatu wilayah akan mudah terlacak.

Karena LawangTani tidak hanya sekedar memfasilitasi “akses kepada informasi pasar” namun juga, yang lebih penting, adalah mewujudkan proses-proses (secara langsung) “price determination” dan (secara tidak langsung) “price discovery” yang dilakukan oleh sebanyak-banyaknya pelaku atau partisipan pasar, LawangTani menyediakan sebuah kisaran harga yang “bisa terlihat atau terbaca” (a visible or eligible range of prices), dan akan potentially mewujudkan katalisator pertumbuhan sebuah sistem pilihan sosial dan kemampuan pengambilan keputusan secara kolaboratif dan kolektif, karena LawangTani menumbuhkan suatu sistem pengetahuan terdistribusi, self-regulating, an autonomous cum collaborative economic.

LawangTani identik dengan “computing with collaborative minds” karena alasan yang bisa dibuktikan bahwasanya pemrosesan informasi sesungguhnya terjadi, berlangsung, di dunia nyata, di pasar-pasar dan bukan di dalam komputer-komputer, maka sistem LawangTani hanya bermaksud merekam perubahan, (registering changes) yang dimungkinkan dengan partisipasi sebanyak-banyaknya sensor/detektor. Ibaratkan para “pelapor” yang mengisi data ke dalam sistem, sebagai detektor atau sensor yang jumlahnya sangat banyak sekali. Sebuah sistem pengamatan yang memiliki sensor sangat banyak tidak membutuhkan pemrosesan informasi terlalu berat, tidak membutuhkan processor data yang canggih, karena “gambar kenyataannya” sudah akan terlihat lebih segera. Survey yang dengan hanya mengandalkan jumlah data sampling relatif sedikit jumlahnya akan menjadi rumit ketika pengolahan data menjadi informasi, karena data yang sedikit itu harus bercerita, mengungkapkan gambar lengkap kenyataan dunia yang jauh lebih kompleks.

LawangTani pada dasarnya hanya memotret, merekam perubahan, ia sama sekali tidak berniat untuk mengendalikan harga. Persis seperti mengamati cuaca. Pengamatan cuaca penting dilakukan dilakukan terus menerus. Manusia tidak bisa mengendalikan cuaca, seperti juga tidak bisa mengendalikan ekonomi, namun informasi yang akurat perlu diperoleh terus menerus.

LawangTani bisa dibayangkan sebagai pasar itu sendiri (the market itself), yang bergerak mendekat dan semakin dekat ke arah sebuah ekonomi yang memiliki tendensi mewujud lebih berdasarkan pada pertukaran (exchange), suatu pasar yang menyerupai, memiliki sifat “pasar barter” di mana trader “orang yang melakukan/bertindak mempertukarkan” - bisa memiliki lintasan yang lebih cepat dan mudah untuk menemukan pihak yang memiliki apa yang ia inginkan (harga dan/atau barang) serta menginginkan apa yang ia miliki (harga dan/atau barang) melalui determinasi kolaboratif serta mengungkapkan lebih mudah zona-zona negosiasi dan tawar menawar (“negotiation and bargaining zones”) yang lebih bisa masuk akal (conceivable) dan, karena itu, lebih mudah bagi pasar “to clear”.

(Friedrich August von Hayek, “Economics and Knowledge”, 1936) :

“The problem which we pretend to solve is how the spontaneous interaction of a number of people, each possessing only bits of knowledge, brings about a state of affairs in which prices correspond to costs, etc., and which could be brought about by deliberate direction only by somebody who possessed the combined knowledge of all those individuals”.

(Friedrich August von Hayek, “The Use of Knowledge in Society”, 1945) :

“Fundamentally, in a system in which the knowledge of the relevant facts is dispersed among many people, prices can act to co-ordinate the separate actions of different people in the same way as subjective values help the individual to co-ordinate the parts of his plan.

Pada tahun 1974 Friedrich August von Hayek – untuk teorinya tentang uang dan karena pencerahan-pencerahannya perihal “interdependence of economic, social, and institutional phenomena” – menerima Hadiah Nobel (bersama-sama dengan Gunnar Myrdal)

Menuju keadilan: ekonomi yang dilahirkan, dipelihara dan ditumbuhkan oleh semua

Dua tantangan terbesar dalam mengembangkan suatu sektor agrikultural yang adil dan efisien di Indonesia atau dimanapun terletak pada:

  1. penentuan atau pembentukan harga-harga, yang sangat penting berkenaan dengan stabilitas jangka panjang dari sistem pasar dan 
  2. penyediaan akses kepada informasi harga pasar yang tepat waktu dan akurat oleh petani-petani sebagaimana juga pedagang di pasar.

Situasi kompleks yang dialami oleh harga pasar adalah fakta bahwa respon-respon pasar terhadap perubahan-perubahan ekonomi sering sangat tidak fleksible (inflexible) dan/atau sangat tertunda (delayed). Harga pasar yang biasanya tersedia sekarang adalah sebuah harga yang belum sepenuhnya selesai merespon kepada totalitas dari sejumlah banyak perubahan-perubahan (detil) ekonomi yang terjadi dalam periode-periode pendek dan karenanya maka akan teramati atau tercerap sebagai lebih tinggi atau lebih rendah daripada nilai ekonomik sesungguhnya.

Saat ini, keputusan-keputusan untuk memasarkan (to-market) didasarkan pada informasi dari mulut ke mulut (hearsay, desas-desus), atau harga dari periode yang sama dari tahun-tahun sebelumnya, atau dari siaran radio harian yang disponsori pemerintah – atau juga mengandalkan pada data yang terlambat (out of phase), memiliki banyak error sejak tahapan data collecting-nya, atau dari data historis. Dalam kenyataan, khususnya pada pasar-pasar utama yang beroperasi 24-jam, harga-harga berfluktuasi bahkan pada setiap jam, dari jam ke jam, yang mana sebagian alasannya sesungguhnya bisa dimengerti atau masuk akal. Akan tetapi, belum ada atau tidak terdapat sistem yang interaktif, dan real time yang eksis untuk secara akurat menginformasikan agen-agen produksi terutama di tingkat desa mengenai harga-harga berlaku (current prices) di pasar-pasar lokal dan regional. Sebagai akibatnya, petani-petani dan pedagang kecil terutama, selalu konstan berada pada pihak lemah (disadvantage), relatif terhadap perantara (middlemen), pengolah pabrikan (processors) dan pebisnis agro skala besar.

Sampai sekarang, pembentukan harga komoditi agro, didominasi oleh pedagang atau pemilik kapital besar, atau oleh hanya beberapa gelintir orang yang memiliki akses kepada informasi. Mereka adalah minoritas. Mayoritas petani atau pedagang hanya bisa mengikuti proses tanpa suara signifikan dalam pembentukan harga atau lebih buruk lagi, mereka bahkan tidak mampu mengetahui siapa yang menentukan harga. Dengan menggunakan LawangTani, it is possible memberdayakan lebih banyak orang untuk juga menjadi pemilik bersama (co-owner) proses-proses penentuan atau pembentukan harga. Dalam ekonomi yang justru lebih sering menekan mayoritas di masyarakat, LawangTani menyediakan benteng terakhir pertahanan individual untuk bersama-sama merespon ketika dilanda perubahan dan berubahnya perubahan dalam ekonomi.

LawangTani pada dasarnya adalah sebuah sistem yang menengahi harga (arbitrating) di antara pembeli dan penjual, ia adalah sejenis “data clearing house” yang mengumpulkan (collect), memproses (process) dan menyebarluaskan (disseminate) informasi harga pasar komoditi agrikultural, secara otomatik, nyaris “ketika hal itu terjadi” di pasar. Selain dari para pengguna sendiri yang melakukan entry data langsung dari lapangan (dari kebun atau dari pasar), tidak ada operator manusia untuk data entry di sisi server database.

Intinya ini adalah sebuah layanan informasi harga komoditi agrikultural yang interaktif dan karena itu mampu real-time, memanfaatkan teknologi Short Messaging Service (SMS) telpon seluler serta Internet.

Data-data sebuah patraka harga yang diunggah (posted) ke dalam sistem LawangTani terdiri dari

  • Nama komoditas
  • Harga
  • Satuan (misalnya kilogram, butir, dlsb)
  • Kuantitas
  • Nama Pasar
  • Nama Kota

Ketika seorang pengunggah data mengirim data harga, ia segera memperoleh respon dari sistem di mana dalam jawaban dari sistem tersebut data dari sang pengunggah tadi telah disertakan dalam perata-rataan terbaru; Jika data dari dia berada di atas nilai maksimum yang telah ada, maka ia menjadi nilai maksimum yang baru; Demikian juga jika ia menyampaikan data baru yang nilainya berada di bawah atau lebih kecil dari nilai data yang sudah ada, ia akan menjadi nilai ter-rendah yang baru. Jadi, setiap data yang disampaikan kepada user adalah data yang sudah mengikutsertakan masukan dari user tersebut jika ia turut menjadi pengisi data LawangTani. Semakin banyak orang turut serta mengisi database LawangTani, semakin tinggi kualitas informasi yang disebarluaskan.

Sistem secara otomatik akan membuat sebuah “timestamp” setiap kali sebuah data masuk ke dalam database. Sedangkan ketika sistem menjawab permintaan (jika data sudah tersedia), akan terdiri dari

  • Nama komoditas
  • Nama kota,
  • Nama pasar,
  • (Harga) Maximum, Rata-rata, dan Minimum,
  • Kuantitas keseluruhan
  • Jumlah data

Untuk suatu kisaran waktu tertentu, misalnya 24 jam terakhir.

Jika data komoditi belum tersedia di server, LawangTani secara otomatik akan meminta user untuk turut mengisi database LawangTani dengan cara mengirim sms kepada server sesuai format peng-unggahan (posting).

Menggunakan LawangTani, petani-petani, pedagang-pedagang individual atau koperasi-koperasi, yang sekarang ini tak berdaya menegosiasikan harga-harga yang fair akibat ketiadaan akses kepada sumber informasi yang dapat diandalkan ataupun, tiadanya informasi yang tepat waktu (timely information) itu sendiri, akan bisa menjadi pemilik bersama (co-owner) proses penentuan harga, melalui kapabilitas yang disediakan LawangTani untuk pemutakhiran harga-harga patraka di pasar lokal dan regional dengan cara meng-unggah (upload, posting) informasi harga lokal mereka sendiri (their own price-quotations) ke dalam database melalui SMS, serta juga akses kepada data yang telah di-agregasikan melalui cara bertanya (querying) kepada database melalui media yang sama (SMS) atau jika menginginkan informasi yang lebih komprehensif, dilakukan melalui internet. Melalui portal web LawangTani tersediakan fasilitas bagi user untuk membentuk kelompok-kelompok kerja yang memudahkan peran-peran kelompok-kelompok pengguna ter-integrasikan ke dalam network of networks bagi pencapaian tujuan-tujuan networking.

Problem-problem saat ini yang berkaitan dengan penyedia(an) akses jaringan telepon seluler. 

  • Perlunya kesediaan access provider (operator layanan telepon seluler) untuk mengembangkan bersama-sama content provider LawangTani. Tanpa input dari user, LawangTani tidak akan memiliki konten, the more users participate in the system, the better the quality of its information, that is representing the real world out there. Quality of service level kepada users, terkait interaktifitas: peningkatan akses yang interaktif membutuhkan kemampuan responsif yang andal, berimplikasi pada kesiagaan mempertahankan level layanan yang continuous. Sebuah request kepada sistem harus mampu direspon dalam bilangan beberapa menit. 
  • Persoalan biaya akses. Posting ataupun menanyakan data melalui telepon seluler membutuhkan biaya. Idealnya, biaya untuk mengakses sistem LawangTani harus bisa terjangkau oleh setiap orang sekalipun dari kelompok yang berpenghasilan rendah. We are still negotiating the cellular telephone service operator to bill the lowest possible charge they can provide menimbang fakta bahwasanya adalah karena paartisipasi users participation maka data akan bisa tersedia. Mempermudah akses dalam pengertian akses yang murah adalah sangat penting.
  • Berbeda dengan konten yang disajikan content provider lain, yang juga menyediakan informasi pasar, database LawangTani melayankan bukan informasi yang disiapkan oleh dirinya sendiri dan kemudian di-siap-saji-kan menunggu diakses oleh publik; Raw material utama untuk konten LawangTani disiapkan oleh user. 
  • Pada akhirnya, semua ini akan menjadi “win-win situation” bagi semua pihak.

Implementasi

Sebagai sebuah jaringan LawangTani akan mengundang awalnya partisipan/anggota-anggota dari organisasi-organisasi, asosiasi dari banyak sektor: produksi (farmers, fishermen) dan trading (traders) serta konsumen (koperasi-koperasi pembeli, buying coops). Pengimplementasian sistem akan jauh lebih mudah dan efektif melalui users yang telah terorganisir, misalnya paguyuban-paguyuban, perkumpulan petani, asosiasi pedagang pasar dsb., hal ini dapat dicapai dengan bekerjasama dengan berbagai organisasi berbasis komunitas, CBOs (Community Based Organizations) atau NGOs (non-governmental organizations), serta juga dengan badan-badan, lembaga-lebaga pemerintahan, petugas lapangan pertanian dan perdagangan di level kabupaten dan kecamatan dan sebagainya.

Penyebarluasan informasi harga selain secara langsung menggunakan SMS juga bisa memanfaatkan email, facsimile (sesuai request) secara otomatik, atau melalui radio-radio komunitas yang pada saat sekarang ini semakin banyak didirikan di tingkat komunitas lokal. Dalam pengembangannya, kami juga mempertimbangkan untuk menggelar layanan sistem vinteractive voice response (IVR) sehingga akses dapat dilakukan menggunakan suara (voice).

Implementasi sistem LawangTani pada sektor-sektor lain sebagai contoh, sektor tenaga kerja dan sebagainya tidak akan terlampau sulit untuk diwujudkan. Konfigurasi databases yang digunakan pada dasarnya serupa. Sebuah pengembangan yang mungkin bagi sistem LawangTani adalah pada bidang manajemen rantai pasokan untuk sektor-sektor publik. Integrasi LawangTani dengan sistem resi-gudang (warehouse receipt system) dan juga dengan manajemen risiko / lindung nilai perdagangan komoditi agro atau sistem lelang komoditi (forward trading) saat ini sedang dikaji dan dikembangkan oleh inisiator sistem LawangTani ini.

LawangTani sebagai suatu mekanisme penengahan (arbitrating) to resolve interdependensi antar pelaku ekonomi yang berbagi resources (informasi), memiliki potensi untuk mewujudkan suatu emergent system yang memfasilitasi pertumbuhan pilihan sosial dan kapabilitas pembuatan keputusan kolektif (collective decision making), menumbuhkan sistem pengetahuan terdistribusi, memelihara dirinya sendiri (self-regulating), sebuah sistem ekonomi otonom dan pada saat yang sama kolaboratif.

LawangTani akan menemukan, menumbuhkan dan memelihara secara bersama-sama: Real Person, Real Price, Real Goods, Real Time, Real Economy, dan ekonomi tidak lagi menjadi sekedar sekumpulan kategori-kategori abstrak yang seringkali lebih menyusahkan hidup manusia alih-alih memberi kemanfaatan. Bersama-sama, kita bisa menuju ke sebuah real societal economy, ekonomi yang tumbuh dari dan untuk masyarakat.

Epilog:

(Friedrich August von Hayek, “Economics and Knowledge”, 1936):

How can the combination of fragments of knowledge existing in different minds bring about results which, if they were to be brought about deliberately, would require a knowledge on the part of the directing mind which no single person can possess? To show that in this sense the spontaneous actions of individuals will, under conditions which we can define, bring about a distribution of resources which can be understood as if it were made according to a single plan, although nobody has planned it, seems to me indeed an answer to the problem which has sometimes been metaphorically described as that of the “social mind.”

(Friedrich August von Hayek, “The Use of Knowledge in Society”, 1945) :

If we can agree that the economic problem of society is mainly one of rapid adaptation to changes in the particular circumstances of time and place, it would seem to follow that the ultimate decisions must be left to the people who are familiar with these circumstances, who know directly of the relevant changes and of the resources immediately available to meet them. We cannot expect that this problem will be solved by first communicating all this knowledge to a central board which, after integrating all knowledge, issues its orders. We must solve it by some form of decentralization. But this answers only part of our problem. We need decentralization because only thus can we insure that the knowledge of the particular circumstances of time and place will be promptly used. But the "man on the spot" cannot decide solely on the basis of his limited but intimate knowledge of the facts of his immediate surroundings. There still remains the problem of communicating to him such further information as he needs to fit his decisions into the whole pattern of changes of the larger economic system.

-----------------------------------------------------------------------------

NOTES

[1] kata “Lawang” dipilih karena dalam bahasa Indonesia ia berarti ‘pintu terbuka’

[2] Walau dikatakan bahwa ilmu ekonomi adalah sebuah ilmu (a science), hal itu tidak berarti bahwa kita melakukan eksperimen menguji hukum-hukum ekonomi layaknya seorang fisikawan nuklir mengkaji hasil-hasil eksperimen penumbukkan atom-atom pada sebuah akselerator partikel. Prinsip-prinsip dasar ekonomi ditemukan melalui penalaran. Dalam praktek, ekonom membuat segala macam spekulasi, banyak diantaranya yang terbukti salah. Namun inti dari teori ekonomi, tidak bisa di test (not testable); Teori ekonomi adalah sekedar suatu cara untuk memandang dunia.

[3] Karena padanan kata untuk “quotation” dalam bahasa Indonesia tidak saya temukan, saya mengadopsi kata Sanskrit untuk quotation, yaitu “patraka” yang maknanya kira-kira adalah: “pendapat yang diumumkan”. Kata “mulyapatraka” bahasa Sanskrit sendiri berarti “price and or cost quotation”, “mulya” sendiri berarti “hal yang berharga, terkait dengan price dan atau "mahal", terkait dengan cost”. Kata “patrakarah” bahasa Sanskrit sepadan dengan “journalist” dalam bahasa Inggeris, “orang yang mengabarkan”.

[4] Informasi harga seperti misalnya yang dihasilkan oleh “analisa penawaran dan permintaan” sangat jarang atau tak pernah mampu, meng-indicate (merujuk, menunjuk kepada) barang spesifiknya.. “yang mana barang yang sesungguhnya yang harganya ternyatakan dalam analisis itu?”, mana bendanya?. Dalam Islam proses penalaran yang tidak spesifik merujuk pada substance-nya ini disebut “melebih-lebihkan” atau “riba”. Ekonomi yang tidak spesifik meng-unjuk (indicate) pada subtance sesuatu harga atau nilai akan cenderung menggelembung, bubbling. Contoh nyata adalah apa yang disebut “order-driven economy”, yang berbeda dengan yang diupayakan melalui LawangTani yaitu ke arah “quote-driven economy”. Keduanya perlu eksis untuk saling menyeimbangkan.

  • Google Bookmarks
  • Digg
  • del.icio.us
  • MySpace
  • Technorati
  • TwitThis

Gabung ke Lawang.org via SMS:
08180 438 9000

Ketik : REG nama, alamat, kabupaten