Namun sebelum saya bisa membuktikan argumen saya bahwasanya proposisi-proposisi tautologis dari analisis pure equilibrium sedemikian itu tidaklah applicable langsung bagi penjelasan perihal relasi-relasi sosial, pertama saya harus perlihatkan bahwa konsep equilibrium itu hanya memiliki arti jika diterapkan pada tindakan-tindakan dari seorang individu (tunggal) dan apa sebenarnya maknaya hal ini. Terhadap argumen saya, barangkali bisa diperdebatkan bahwa adalah persis di sini [bahwasanya] konsep equilibrium is of no significance, karena, jika seseorang menginginkan untuk menterapkannya, seluruh hal yang bisa dikatakan adalah bahwa seseorang yang terisolir akan selalu dalam equilibrium. Namun statement terakhir ini, walau merupakan sebuah aksioma [truism], sekedar memperlihatkan cara-cara di mana konsep mengenai equilibrium ini biasanya salah digunakan. Apa yang relevan adalah bukannya perkara seseorang yang demikian itu berada atau tidak berada dalam equilibrium, namun equilibrium yang mana atau his actions stand in equilibrium relationships to each other.
[relative equilibrium;“relasi equilibrium antara berbagai tindakan-tindakan satu sama lain, yang seseorang lakukan”]
Segenap proposisi analisis equilibrium, seperti halnya proposisi bahwa relative values akan correspond kepada relative costs, atau bahwasanya seseorang akan equalize the marginal returns of any one factor in its different uses, adalah proposisi-proposisi mengenai relasi-relasi antara berbagai tindakan-tindakan (actions). Tindakan-tindakan seseorang bisa dikatakan berada dalam equilibrium sejauh tindakan-tindakan itu bisa diartikan sebagai bagian dari sebuah plan. Hanya jika kasusnya memang demikian, hanya jika semua tindakan-tindakan ini telah diputuskan pada suatu saat dan [hanya] pada saat yang itu, serta in consideration of the same set of circumstances, [maka] statements kita tentang interkoneksi mereka, - yang kita deduksikan dari asumsi-asumsi kita mengenai knowledge dan preferences orang tersebut, - [akan memiliki] suatu kegunaan [application]. Adalah penting untuk diingat bahwa apa yang disebut "data," dari mana kita tetapkan [set out] dalam analysis sejenis ini, (terlepas dari selera dia) adalah segenap fakta yang given pada person yang dimaksud, hal-hal sebagaimana [data itu] diketahui (atau diyakini, believed) olehnya sebagai exist, dan bukannya, tegasnya, fakta-fakta obyektif. Adalah semata-mata karena hal inilah maka proposisi-proposisi yang kita deduksikan seharusnya (are necessarily) valid secara a priori dan maka karenanya kita [bisa] memelihara konsistensi dari argumen tersebut.
Dua kesimpulan utama dari considerations ini adalah, pertama, bahwa, karena relasi-relasi equilibrium eksis antara rangkaian tindakan-tindakan seseorang hanya sejauh [jika] tindakan-tindakan itu bagian dari eksekusi dari plan yang sama, [maka] jika ada perubahan dalam pengetahuan yang relevan dari orang tersebut, yakni, perubahan apapun yang membawanya untuk mengubah rencananya, [hal itu] mengganggu relasi equilibrium antara tindakan-tindakan orang tersebut yang diambil sebelum dan tindakan-tindakannya yang diambil setelah perubahan di dalam pengetahuannya. Dengan kata lain, relasi equilibrium comprises only his actions selama periode di dalam mana antisipasi-antisipasinya terbuktikan kebenarannya. Kedua, bahwa, karena equilibrium adalah suatu hubungan di antara tindakan-tindakan, dan karena tindakan-tindakan seseorang akan tak-pelak berlangsung berurutan dalam waktu, [maka] jelas bahwa perlaluan waktu [the passage of time] adalah essensiil untuk mewujudkan konsep equilibrium menjadi bermakna. Hal ini patut dikemukakan, karena banyak ekonom tampaknya telah tidak mampu menemukan suatu tempat bagi waktu dalam analisis equilibrium dan akibatnya telah menyarankan bahwa equilibrium harus dipahami (be conceived) sebagai timeless. Bagi saya hal ini tampak sebagai sebuah pernyataan yang tak bermakna.
Sekarang, di luar apa yang telah saya katakan sebelumnya mengenai makna yang meragukan dari equilibrium analysis dalam pengertian ini jika diterapkan pada kondisi-kondisi sebuah masyarakat kompetitif [competitive society], tentu saja saya tidak ingin menolak bahwa konsep itu pada mulanya diintroduksikan persisnya untuk mendeskripsikan gagas mengenai semacam keseimbangan antara the actions of different individuals. Apa yang telah saya argumentasikan sejauh ini adalah bahwa the sense in which we use the concept of equilibrium to describe the interdependence of the different actions of one person tidak serta-merta mengakui [admit] aplikasinya dalam relasi-relasi antara tindakan-tindakan (actions) dari orang-orang berbeda (different people). Pertanyaan sesungguhnya adalah what use we make of it ketika kita berbicara tentang equilibrium dengan merujuk pada sebuah competitive system.
Jawaban pertama which would seem to follow dengan pendekatan kita adalah bahwasanya equilibrium dalam hubungan ini exists jika tindakan-tindakan segenap anggota dari society meliput suatu jangka waktu tertentu [over a period] adalah segenap eksekusi dari rencana-rencana individual mereka masing-masing [their respective individual plans] di dalam apa masing-masing tetapkan pada awal dari periode itu. Namun, ketika kita bertanya lebih lanjut apa yang sebenarnya diimplikasikan oleh hal ini, tampak bahwa jawaban ini membawa lebih banyak kesulitan alih-alih yang dipecahkannya. Tidak ada kesulitan spesifik perihal konsep tentang seseorang yang terisolir [isolated] (atau suatu kelompok terdiri dari orang-orang yang diarahkan (directed) oleh salahsatu dari mereka) bertindak dalam suatu perioda waktu sesuai dengan suatu preconceived plan. Dalam kasus ini, plan tersebut tidak perlu memenuhi kriteria khusus apapun in order that its execution be conceivable.[imaginable] Tentunya mungkin saja, [jika] didasari pada asumsi-asumsi yang salah mengenai fakta-fakta external dan karenanya [rencana itu] mungkin harus dirubah. Namun there will always be a conceivable set of external events which would make it possible to execute the plan as originally conceived.


